
Qibil "The Changcuters" Sering Rebutan Mobil-mobilan
Siapa yang tak tahu The Changcuters? Band beraliran musik rock ‘n roll klasik itu sedang menjadi perbincangan di mana-mana. Dengan kostum panggungnya yang selalu berseragam (dan ssst....selalu ketat), kelima anak muda Bandung itu pun mulai dikenal banyak orang, terutama duo gitaris kembarnya, Qibil dan Alda.
Penampilan mereka memang mirip. Apalagi potongan rambut jamurnya. Kalaupun ada perbedaannya, akan sulit untukterlihat jelas. Namun, siapa sangka bahwa mereka tak benar-benar kembar. Berikut petikan cerita masa kecil Qibil yang masih dapat diingatnya. Kita ikuti aja yuuuk....
**
Namaku Qibil. Di dalam band The Changcuters, aku dan Alda adalah gitaris kembar. Kembar karena kami sama-sama memainkan gitar dan memiliki potongan rambut yang mirip jamur. Gara-gara berambut jamur, kami jadi banyak dikenal orang. Sayangnya, banyak yang sering keliru memanggil kami. Kadang aku dipanggil Alda, dan begitu juga sebaliknya. Sebenarnya kami tidak terlahir kembar, bahkan kami pertama bertemu setelah menginjak bangku kuliah lho....
Nama lengkapku Muhammad Iqbal. Teman-teman mulai memanggilku Qibil ketika aku sudah besar. Aku lahir di Bandung, 10 Maret 1982. Ketika kecil, aku adalah anak yang aktif. Mungkin waktu kecil aku bercita-cita jadi pemain bola karena aku senang sekali bermain bola.
Sekolah pertamaku adalah TK Turangga Bandung. Meski sudah 21 tahun berselang, banyak yang masih kuingat ketika itu. Salah satunya adalah kenanganku akan Anisa. Dia adalah anak perempuan yang pertama kali kusenangi. Aku senang sekali jika bisa bermain bersama Anisa. Suatu kali, hari itu hari Sabtu, adalah jadwal sekolahku untuk makan jagung. Ketika sedang asyik makan jagung, kulihat Anisa beranjak dari tempat duduknya. Aku pikir Anisa sudah selesai makan dan akan mencuci tangannya. Segera saja cepat-cepat kuhabiskan jagung rebusku, sampai gigiku bergemelutuk karena harus menggigiti biji jagung yang masih banyak berkumpul dalam mulutku. Dan itu sengaja kulakukan agar bisa buang sampah bareng sama Anisa. Wah, jika ingat hal itu aku jadi terkenang Anisa. Sekarang sih, aku tidak tahu lagi keberadaan Anisa ada di mana.
Setelah TK, aku sekolah di SD Terang Bandung selama satu tahun. Karena keluargaku pindah rumah ke daerah Antapani, maka mulai kelas II aku bersekolah di SD Griba 2 Antapani. Kelakuanku tetap saja aktif. Namun, aku mulai sering berkelahi, bahkan dengan anak yang badannya lebih besar daripada aku. Alasan perkelahian itu paling sering karena rebutan mobil-mobilan. Walaupun nakal, aku selalu menempati peringkat atas di kelas, sehingga aku tidak melulu dicap sebagai anak nakal.
Itulah sebagian cerita masa kecilku. Aku punya lima pesan untuk sobat Percil semua. Satu, gunakan waktu luang untuk beristirahat. Dua, usahakan perut tidak sampai kosong. Tiga, jangan lupa minum vitamin. Empat, semua yang sobat Percil lakukan harus disertai rido orang tua. Dan terakhir, jangan lupa mengerjakan tugas dari sekolah ya... (Eva Fahas)***





Tidak ada komentar:
Posting Komentar